Etika Pandita

Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia

Etika Pandita merupakan sikap batin dari Pandita yang harus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi contoh tauladan, dan memiliki kharisma dalam membina umat untuk meningkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama Buddha yang bersumber pada Kitab Suci Tipitaka Pali.

  1. Saya berupaya untuk melaksanakan secara penuh, Pancasila agama Buddha dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Saya selalu memperlakukan sesama Pandita sebagai saudara kandung saya sendiri.
  3. Saya selalu menghormati Pandita yang lebih senior dalam kepanditaan, tanpa memandang jenjang kepanditaan.
  4. Saya selalu memperlakukan Bhikkhu dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan Sigalovada Sutta.
  5. Saya selalu memperhatikan dengan seksama, teguran atau peringatan yang disampaikan oleh Bhikkhu atau pandita yang lainnya, dalam rangka memperbaiki diri atas kekeliruan yang mungkin dilakukan.
  6. Saya berusaha untuk mempelajari dan menghayati Buddha Dhamma secara lebih mendalam.
  7. Saya selalu memperlakukan umat dengan baik, ramah, dan sopan tanpa memandang status sosial, kedudukan, atau materi.
  8. Saya selalu berbusana rapi dan sopan, sesuai dengan jabatannya sebagai Pandita.
  9. Saya berupaya mengendalikan diri dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan agar selalu sesuai dengan Buddha Dhamma.
  10. Saya berupaya melaksanakan kewajiban saya sebagai Pandita dengan serasi, selaras, dan seimbang antara pribadi, keluarga, dan tanggung jawab sosial dalam masyarakat.
  11. Saya tidak akan melakukan tindakan atau mengeluarkan perkataan yang dapat mengganggu kerukunan beragama.
  12. Saya tidak akan mengeluarkan perkataan atau melakukan perbuatan, yang tidak menyenangkan terhadap Bhikkhu, sesama Pandita, maupun terhadap umat.
  13. Saya tidak akan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma sopan santun, tertawa keras, menggoyang-goyangkan badan/anggota badan, atau bertolak pinggang di tempat umum.
  14. Saya tidak akan menyebarluaskan keburukan-keburukan sesama pembina umat Buddha di depan umum, melainkan akan berupaya sebagai kalyana-mitta untuk mengingatkan yang bersangkutan dari kekeliruan yang mungkin telah dilakukannya.
  15. Saya tidak akan memberi khotbah Dhamma kepada orang yang sedang memegang senjata.
  16. Saya tidak akan memberi khotbah Dhamma di atas tempat duduk yang lebih rendah dari para pendengar.
  17. Saya tidak akan menjalani kehidupan yang bertentangan dengan Samma Ajiva.